Jumat, 20 April 2012

Inilah KETOLOLAN Sinetron Indonesia

BANYAK sinetron berkualitas di negeri ini yang diterima dan populer. Bajaj Bajuri, Keluarga Cemara, Si Doel Anak Sekolahan, Mariam Mikrolet, atau komedi dengan selera humor yang bagus dari Trans TV: Coffe Bean Show, 86atau Kejar Tayang. Beberapa FTV di SCTV juga bagus karena menampilkan latar budaya (katakanlah setting di daerah lokal seperti Bali, Bandung, atau Yogyakarta) dan penggarapan teknisnya pun terbilang oke. Beberapa tahun lalu Indonesia pernah juga membikin sinetron berkualitas dan prestige Dunia Tanpa Koma. Sinetron ini mahal secara budget dan kualitas. Nah, seharusnya ini yang harus menjadi acuan. Bukan hanya membikin tayangan yang ‘membodohkan’, melainkan memberikan tayangan yang bersifat edukatif untuk kebanyakan masyarakat kita yang awam. Dan berikut ini adalah apa yang saya (dan orang-orang di luar sana) katakan dengan sinetron yang membodohi.

8 Editing
Masih ingat dengan editan sinetron ketika Multivison Plus Berjaya di era 90-an? Dalam sinetron Tersanjung, beberapa scene dibuat tegang lengkap dengan potongan gambar yang repetitif (berulang-ulang) dan musik dramatis. Jejreng! Yakni ketika wajah seorang aktor langsung di-close up sehingga men-zoom. Maka lengkaplah dramatisasi jaman jahiliyah itu. Untungnya hal itu tak lagi di pakai dalam pesinetronan era 2000-an. Akan tetapi bukan berarti tanpa cela. Nyaris sinetron kejar tayang di RCTI dan SCTV setipikal dan bikin riyeut (pusing). Tentu karena hasil penggarapan yang serba dadakan dan ‘asal-asalan’.

7 Tata Kamera
Untuk upaya efisensi, penggarapan sinetron kejar tayang dilakukan sangat instan, cepat, dan menitikberatkan pada skenario dan proses editing ala mi instan (siap rebus). Misalnya Nia Rhamadani adalah aktris yang sangat sibuk. Ia pun syuting hanya seorang diri tanpa lawan main. Ia berpura-pura berakting dengan lawan mainnya yang tak pernah ada (atau diganti ‘stuntmant’ yang cuma kelihatan kepalanya doang dari belakang). Padahal seharusnya syuting dikerjakan bersama-sama dengan aktor lain. Nah, kalau begini, lihat bagaimana hasilnya? Jadi sangat aneh dan ndak nyambung. Apalagi dalam scene yang menuntut semua aktornya berkumpul. Contohnya acara makan malam. Nah, kalau teknik seperti yang saya sebutkan tadi itu dipake, otomatis hasilnya hanya akan berupa scene-scene berisi kepala aktor secara close up yang digabungkan. Seolah mereka berada di tempat yang sama. Parah.

6 Mimik Muka
Susah membedakan ekspresi orang yang sedang bersedih dengan ekspresi orang yang sedang menahan berak. Suatu hari saya dan keluarga menonton sinetron Cahaya tepat ketika Naysila Mirdad menangis tersedu sedan. Keponakan saya yang berumur 7 tahun itu pun nyeletuk: “kayak lagi nahan e’e..” Haha! Dan di sinetron kita, kerap kali pemeran antagonis harus selalu marah-marah, psikopat, tidak manusiawi, licik, dan ‘jarang’ ditemui di kehidupan nyata. Tatapan mereka tajam dan melotot seperti hendak keluar dari rongganya. Mereka juga suka bergumam sendiri seperti orang skrizofenia. Tapi pemeran tokoh ini adalah aktor-aktor yang hebat. Meriam Bellina dan Vicky Burki adalah beberapa di antaranya. Kalaulah mereka-mereka ini main di sinetron bagus, pasti akan sangat menarik. Yap, begitu banyak aktor bagus yang bermain di film/sinetron jelek, bukan?

5 Tanda Lahir
Tanda lahir merupakan senjata wajib bagi sinetron-sinetron kita (terutama yang kejar tayang) agar terkesan dramatis dan seru! Misalnya Nikita Willy adalah anak orang kaya. Tapi kemudian seorang ibu (katakanlah diperankan Mpok Atik) menghampirinya dan bilang kalau tompel di leher Nikita adalah sebuah tanda. “tanda apa?” tanya Nikita. “Bahwa kau adalah anakku..” kata Mpok Atik. Nikita pun terkejut, belakangan ia tahu kalau ia hanyalah anak hasil adopsi. Ia pun menjadi miskin dan hidup berdua bersama ibu kandungnya di sebuah bukit. Belum cukup seru? Buatlah Nikita diperkosa oleh seorang pelaku illegal loging (penebang liar).

4 Bergumam Sendiri
Kebanyakan sinetron kita memang dibuat komikal , khususnya untuk sinetron remaja. Tapi ini tidak mutlak. Banyak juga sinetron untuk ibu-ibu yang menempatkan tokohnya ngomong sendiri. Padahal sangat jarang orang-orang di dunia ini melakukannya (apalagi di tempat umum). Secara teknis, hal ini dilakukan untuk ‘penghematan’. Maksudnya tidak perlu berepot-repot dengan teknik dubbing (jadi dalam scene, seorang aktor hanya berekspresi sementara suara dari dalam kepalanya terdengar). Meski teknik efisien ini sudah jarang digunakan, tapi di beberapa sinetron lepas hal ini dilakukan. Misalnya seorang cewek yang jengkel karena mobilnya mogok. Ia pun bergumam dengan ‘durasi’ yang lumayan panjang lengkap dengan ekspresi lebay. “Ieh,, bĂȘte banggets sie ni mobil.. (sambil nendang itu mobil)”. Uhmm..

3 Saudara Seayah/Seibu/Inses
Cerita dengan tema jenis ini berulang dengan kemasan yang berbeda. Sialnya, yang membedakan sinetron yang satu dengan sinetron yang lain (dari tema ini) hanya sebatas pada pemain dan naskah siap saji. Maksud saya begini, dua orang saling mencintai dan berniat menikah, namun belakangan mereka tahu kalau keduanya ini saudara kandung. Mereka pun akhirnya tak bisa bersatu dan meninggalkan duka lara. :p Hmm, sangat lagu lama, kan? Kenapa harus begitu. Mungkin penulis skenarionya harus mencoba yang ini: dua orang yang saling jatuh cinta tetap menikah meski keduanya saudara kandung. Kelak anak mereka lahir cacat, jadi homo lalu mampus kelindes kereta. Seru, kuaaan? (ekspresi Dara dalam Rumah Dara).

2 Ending
Penulis skenario adalah 'biang kerok' dari berbagai macam ending yang maksa, tak masuk akal, dan harus diakhiri cepat-cepat kalau sinetron itu tidak mendapat rating tinggi. Tapi (tentu) kambing hitam tidak hanya ditujukan kepadanya. Sebab ini hanyalah persoalan bisnis.
Sebenarnya penonton ingin mendapatkan tayangan yang lebih baik dari yang sudah ada. Tapi para produsennya barangkali menganggap bahwa itu semua adalah selera masyarakat Indonesia. Jadi mereka (produsen) ‘tak sepenuhnya bisa disalahkan’ karena membuat produk yang ‘diinginkan’ rakyat banyak. Hmm, harus diluruskan, tuh.

1 Copas
Comot sana comot sini, tanpa ijin. Toh orang Amrik atau Asia sana nggak ngeh. Hmmh, yang menggelikan pernah ada sinetron yang nyontek film Amrik Mrs.Doubtfire(diperankan Robin William, ia menyaru sebagai pengasuh wanita berusia senja demi untuk bertemu anak-anaknya). Nah, versi Indo-nya diperankan Arie K. Untung lengkap dengan dandanan kebaya (dan dia juga jadi baby sitter). Parahnya, istrinya (diperankan Wulan Guritno) nggak ngeh kalau itu mantan suaminya. Maksud saya, logikanya dengan hanya kebaya dan sanggul, Arie lebih mirip banci ketimbang perempuan sesungguhnya. Berbeda dengan film hasil comotannya yang memang full effect dan make up.



SUMBER



Selengkapnya...

Menharukan Bocah 10 Tahun, Yang Menjadi Tukang Tambal Ban Truk

Melihat usianya belumlah pantas jika bocah usia 10 tahun yang masih mungil ini harus membongkar ban sebuah truk untuk ditambal, selain faktor usia faktor kemanusiaanpun rasanya sangatlah kurang pantas, karena seperti halnya bocah seusianya masih harus menuntut pendidikan di sekolah untuk masa depan mereka.
http://i.dailymail.co.uk/i/pix/2010/09/03/article-1308671-0B061A62000005DC-659_634x457.jpg
Wang Junjie, bocah 10 tahun menjadi tukang tambal ban
Mungkin nasib Wang Junjie nama bocah itu tidak semujur teman-temannya yang lain, Wang adalah putus sekolah yang diakbibatkan faktor ekonomi dan alasan sekolahnya yang mengeluarkannya karena dinilai hasil akademis pelajaran yang jelek. Dikutip ruanghati.com dari Mail Online menceritakan, bocak cilik yang tinggal di Propinsi Guizhou Cina ini akhirnya bekerja menjadi tukang tambal ban mobil dan truk di bengkel pamannya.
http://i.dailymail.co.uk/i/pix/2010/09/03/article-0-0B061B30000005DC-641_634x426.jpg
Wang Junjie, bocah 10 tahun menjadi tukang tambal ban
Beberapa waktu silam setelah Wang berhasil mengumpulkan sejumlah uang maka dirinya mencoba kembali untuk mendaftar sekolah, akan tetapi oleh pihal sekolah ditilak mengingat nilai akademis sebelumnya yang sangat jelek. Lha mau pinter ditolak sekolah kapan pinternya guman Wang mungkin demikian. Oh nak kasihan dikau.
http://i.dailymail.co.uk/i/pix/2010/09/03/article-0-0B061B34000005DC-679_634x385.jpg
Wang Junjie, bocah 10 tahun menjadi tukang tambal ban
Kala bersekolahpun Wang ditempatkan oleh gurunya di barisan belakan sehingga susah melihat papan tulis, mengingat tubuhnya lebih pendek dibanding teman teman sekelasnya. Wang kini tetap meminpikan ingain sekolah dan bisa belajar kembali seperti rekan rekan seusianya. Sebuah cita-cita mulia.
Pulang ke negeri kita, sobat ruanghati.com, agaknya potret Wang di Cina inipun sangat banyak kita jumpai di tanah air kita, karena faktor ekonomi mereka musti membanting tulang untuk menyambung hidup sehingga meninggalkan sekolah, tidak jarang pula mereka bahkan menjadi tulang punggung keluarga. Lihat di jalan raya, di perempatan lampu trafik light. Di dalam bus dan lain sebagainya.
http://i.dailymail.co.uk/i/pix/2010/09/03/article-0-0B061A6A000005DC-246_634x436.jpg
Anak jalanan di negeri ini
Mari kita berbagi untuk masa depan mereka, karena mereka merupakan masa depan bangsa ini, tapi bagaimana berbagi yang bijak? apakah dengan memberi mereka uang sehingga mereka merasa meminta-minta lebih menghasilkan dari bekerja dan melemahkan mental sehingga mereka malas berusaha. tapi usia mereka kan memang belum pantas untuk bekerja?
Sudah saatnya kita semua peduli dengan masa depan mereka bukan hanya dengan mempolitisasi dan memanfaatkan mereka untuk kepentingan-kepentingan kita. tapi sungguh sungguh tulus mencarikan jalan bagai masa depan mereka.



SUMBER



Selengkapnya...

Kisah Pilu Kehidupan Anak Jalanan Di Jakarta

Pengamen dan pengemis anak bukan pemandangan baru di Jakarta. Ada yang merasa kasihan dan prihatin, tak sedikit juga yang sinis dan tak peduli. Namun, tahukah Anda bagaimana kehidupan anak jalanan sesungguhnya? Andes Lukman dan Ajeng Pinto menelusurinya dengan terjun langsung di antara mereka.

kisah anak 
jalanan
Siang itu daerah perempatan Jatinegara, Jakarta Timur, panas terik. Tampak seorang anak lelaki berusia 8 tahun tengah asyik menyanyi sambil menepuk-nepuk tangan di sisi sebuah mobil. Tak jelas syair lagu apa yang keluar dari mulutnya. Setelah bernyanyi beberapa bait, tangannya menadah pertanda meminta uang. Dengan muka memelas ia berkata, “Buat makan dan sekolah, Bu. Minta uang,” begitu katanya singkat.


Pemandangan seperti ini pasti se­ring Anda jumpai di sudut kota besar, terutama Jakarta. Tak peduli hujan atau panas, anak-anak ini tetap me­minta uang di jalanan. Timbul perta­nyaan, siapa mereka sebenarnya? Ke mana orang tua yang seharusnya bertanggung jawab atas anak-anak ini?

Penasaran dengan hal ini, beberapa waktu lalu kami menelusuri kehidupan pengemis dan pengamen anak-anak di sekitar Prumpung, Jakarta Timur. Untuk masuk ke dalam kelompok ini, Sekar harus melakukan pendekatan dengan keluarga mereka terlebih dulu. Tidak mudah, sebab anak-anak ini benar-benar tertutup dengan orang baru. Baru tanyakan soal tempat tinggal saja, anak-anak ini langsung mengernyitkan dahi. “Ada apa? Mau apa? Kenapa tanya-tanya?” cecar mereka.

Bagi anak-anak ini, tempat tinggal adalah suatu hal yang yang sangat dijaga kerahasiaannya. Pasalnya, bila sudah banyak yang mengetahui tempat tinggal, pastilah banyak orang yang akan berkunjung. “Orang” yang dimaksud di sini bukanlah orang biasa, melainkan institusi, lembaga pemerintah, hingga LSM, yang sering menjaring anak-anak dan orang tua mereka agar tak turun ke jalan lagi. Inilah yang ingin dihindari para pengamen dan pengemis jalanan.

Agar bisa berkenalan dan diterima, Sekar harus mencopot identitas wartawan. Hari pertama berkenalan dengan anak-anak ini, kami terkejut karena ternyata sebagian dari mereka mempunyai telepon selular atau ponsel. Ketika kami menanyakan nomor HP, spontan anak-anak itu menjawab, “Kosong delapan…kapan-kapan kita ke Dufan.” Begitu canda mereka sambil mencibir, menggambarkan keengganan menyebut nomor.

WAJIB MENGEMIS & MENGAMEN

Seperti yang mungkin sudah diduga banyak orang, para pengemis dan pengamen anak ini sudah melupakan pendidikan. Sebenarnya ada kesempatan untuk sekolah, tapi kemauan mereka yang sudah lenyap. Ketua LSM (lembaga swadaya masyarakat) SWARA, Endang Mintarja, yang bergiat untuk anak-anak jalanan di sekitar Jakarta Timur menyebut kondisi ini sebagai titik “aman” orang tua.

Maksudnya, orang tua memang sengaja membiarkan anak-anaknya mengemis dan mengamen di jalanan. “Kenapa dibiarkan? Karena mereka juga mengambil keuntungan dari situ,” katanya. Lalu mengenai pendidikan, beberapa tahun ke belakang Endang dan beberapa timnya memberikan ke­sempatan kepada anak-anak ini untuk sekolah. Masalah biaya SWARA akan berusaha membantu.

Namun kenyataannya tak banyak orang tua dan anak-anak yang tertarik dengan program ini. Mereka lebih senang di jalanan ketimbang harus duduk dan belajar di sekolah. Endang bahkan sudah mengalokasikan uang bagi anak-anak yang mau belajar. Mi­salnya, setiap hari Jumat dan Sabtu SWARA mengundang anak-anak jalanan untuk belajar di kantor SWARA di bilangan Prumpung. Bagi anak yang hadir akan diberikan uang sebesar Rp10 ribu. “Uang itu hitung-hitung sebagai ganti rugi mereka mengamen dan mengemis,” tuturnya.

Ternyata cara ini pun tidak lantas membuat anak-anak tertarik untuk belajar. Ketika Sekar mengikuti kegiatan belajar ini, mayoritas dari mereka malah asyik bersenda-gurau. Misalnya ketika salah seorang guru menjelaskan tentang fungsi RW (rukun warga), tiba-tiba seorang anak langsung berteriak, “Rukun Warga tidak ada fungsinya karena masyarakat selalu berkelahi.” Jawaban itu langsung diikuti gelak tawa teman-temannya.

Begitu pula ketika mereka disuruh membacakan Pancasila. Seorang anak dengan cepat langsung mengacungkan tangannya dan berdiri di antara anak-anak lainnya. “Pancasila! Satu, Ketuhanan yang Maha Esa. Dua, mari mengamen sama-sama,” kata anak itu sambil tertawa terbahak-bahak. Tak ayal sang guru hanya menggeleng-gelengkan kepala. Anak-anak itu benar-benar liar dan susah diatur.

Dari 105 jumlah anak-anak jalanan di sekitar Prumpung, hanya setengahnya yang mau ikut belajar. Itu pun mereka harus dipaksa dan diming-imingi uang. Melalui program belajar inilah kami bisa berkenalan dengan F, gadis berusia 13 tahun. Di usia setua itu F masih duduk di bangku kelas 3 SD. Terkadang ia malu dengan teman-temannya yang lain karena badannya paling besar. “Harusnya kan saya sudah SMP,” katanya sedih.

Keinginan F untuk belajar tidak datang secara tiba-tiba. Sebelumnya beberapa kali ia ditawari oleh tim dari SWARA untuk mendaftar sekolah, tapi tidak mau. Ia memilih untuk te­rus mengamen di jalanan. F tinggal di sebuah rumah petak di sekitar Prumpung bersama kedua orang tua dan tiga adiknya. Ayah dan ibunya adalah pedagang asongan di sekitar Jatinegara. Barang yang dijual bermacam-macam, mulai dari rokok, minuman, atau apa saja. Yang penting laku dijual.

Pendapatan bersih rata-rata kedua orang tua F hanya Rp20 ribu sehari. Uang itu harus digunakan untuk membayar sewa rumah petak seharga Rp200 ribu per bulan. Rumah itu jauh dari kesan nyaman. Ruangan yang hanya berukuran 3 x 3 meter itu digunakan untuk tidur, masak, dan tempat berkumpul. Kamar mandinya berukuran 1 x 1 meter, namun pintu untuk menutup kamar mandi hanya papan tripleks yang disandarkan. Bila akan menggunakan kamar mandi, kayu tripleks harus diangkat untuk menutup pintu. Jika sewaktu-waktu angin kencang bertiup, papan tripleks bisa terjatuh. Itu belum seberapa. Bila salah satu anggota keluarga F sedang buang air besar, baunya akan “terbang” ke sekeliling ruangan.

Sebagian besar pendapatan kedua orang tua F dari berjualan di pinggir jalan habis untuk membayar kontrak­an ala kadarnya ini. Uang yang tersisa mereka pergunakan untuk makan sehari-hari. Tentu saja tidak cukup. Itulah alasan sang ibu menyuruh F mencari uang di jalanan. Caranya? Ya, terserah. Mau mengamen atau mengemis, sang ibu tidak akan keberatan.

Malah ketika F berusia 3 tahun, sang ibu sudah membawanya berjualan di pinggir jalan sambil digendong-gendong. Tak peduli debu, terik matahari, dan hujan. Ketika sudah berusia 7 tahun, barulah F disuruh mencari uang sendiri. Setiap hari anak ini bisa me­ngantongi uang Rp10 ribu sampai Rp20 ribu dari mengamen dan mengemis. Untuk mengamen tak diperlukan keahlian apa pun. Cukup menyanyi dan bertepuk tangan, jadilah sebuah nyanyi­an. “Tak perlu merdu, yang pen­ting memelas,” kata F sambil tersenyum. Uang yang ia dapat sebagian diberikan kepada orang tua. Sedangkan sebagian lagi digunakan untuk membeli aksesori, seperti gelang dan kalung.

KORBAN KEKERASAN & PELECEHAN SEKSUAL

Kedua orang tua F tak pernah menghiraukan keberadaan anaknya. Yang mereka tahu, bila tidak pulang ke rumah berarti anak ini tidur di pinggir jalan. Pergaulan F pun terbilang luar biasa. Di usia semuda itu ia sudah sering berganti-ganti pacar. Bahkan meraba-raba badan pasangan menjadi hal yang biasa baginya. Kami sempat melihat komunikasi anak ini dengan pacarnya. Bila sang pacar meledek F, anak ini tak segan-segan menempeleng kepala sang pacar. Begitu pula sebaliknya. Sang pacar sering menjambak rambut F. Menurut F, orang tuanya memang sering tak peduli pada anak. Ketidakpedulian mereka bahkan telah merenggut nyawa dua orang adiknya. Peristiwanya bermula ketika sang ibu sering membawa adik F yang nomor dua berjulalan di pinggir jalan. Alasannya klise, di rumah tidak ada yang menjaga sang anak.

Suatu hari dada si anak sesak dan sulit bernapas. Ketika dibawa ke rumah sakit, si anak dinyatakan mengalami gangguan pernapasan akut dan sulit disembuhkan. Penyebab utamanya adalah polusi karena terlalu sering mengisap debu dan asap knalpot. Nyawa si anak tak bisa tertolong dan F pun kehilangan satu adiknya. Bukannya kapok, sang ibu kembali membawa anak berjualan di pinggir jalan. Kali ini yang dibawa adalah anak ketiganya. Hanya selang satu tahun, anak ini juga meninggal. Namun sang ibu selalu mengelak kalau anaknya itu meninggal karena gangguan pernapasan akibat polusi. Menurutnya, kedua anaknya itu meninggal akibat salah minum obat.

Tak jauh berbeda dengan kehidup­an F, Aris (bukan nama sebenarnya) juga harus mencari uang di jalanan. Padahal sang ayah, M masih mampu mencarikan biaya untuk anak laki-laki berusia 8 tahun ini. M adalah penjual kerupuk keliling di sekitar Jakarta Timur. Penghasilannya per hari kurang lebih Rp50 ribu. Artinya dalam sebulan M bisa mengantongi penghasilan kurang lebih Rp1,5 juta per bulan. Kondisi keuangan yang cukup baik ini tidak lantas membuat Aris senang. Ia sama seperti anak-anak yang lain, wajib mengemis di jalanan. Bukan semata-mata karena butuh, tapi karena disuruh orang tua. Setiap hari, dari pagi sampai malam, ia harus mengemis di sekitar Jakarta Timur. Bila sekali saja tidak mencari uang, ayahnya akan memukuli Aris. Akibat terlalu sering dipukul oleh sang ayah, telinga sebelah kanannya tidak bisa berfungsi lagi. Sangat menyedihkan.

Sifat kasar sang ayah mulai muncul sejak Aris berusia 4 tahun. Saat itu M bercerai dengan istrinya gara-gara sang istri berselingkuh. Ia marah dan kesal. Semua emosi itu ia lampiaskan kepada Aris. Saat marah ia bisa berubah seperti orang kesurupan. Semua benda yang ada di sampingnya hancur berantakan. Pernah suatu ketika M tengah makan nasi hangat. Aris yang tengah ba­ngun tidur tiba-tiba menangis. Ber­ulang kali M menyuruh anak itu untuk diam tapi tak bisa. Aris malah semakin kencang menangis. Kesal mendengar hal itu, M pun melempar piring beserta nasi hangat itu ke pipi Aris. Anak itu pun pingsan dan pipinya melepuh.

Saat M menceritakan peristiwa ini, M menyuruh Aris menunjukkan bekas-bekas luka itu. Anehnya, M malah bangga karena telah berhasil membuat anak satu-satunya itu takut kepadanya. Sambil tertawa terbahak-bahak, M mempertontonkan kepada kami luka anaknya itu. Tak hanya kekerasan fisik, M juga sering mengajak anaknya ini ke tempat prostitusi di daerah Jatinegara.

Di tempat maksiat itu, Aris disuruh menunggu di luar, sementara M asyik berhubungan intim dengan wanita lain di dalam tenda. “Saya mau mengajar anak ini untuk berani,” begitu alasan M saat mengajak anaknya datang ke tempat prostitusi. Tak jauh berbeda dengan cerita Aris, lelaki bernama R juga menjadi korban kekerasan. Bedanya R adalah korban kekerasan seksual. Semenjak dibuang oleh orang tuanya, R harus berjuang menyambung hidup di jalan. Semenjak usia 7 tahun ia sudah mengemis di jalan. Namun sayang, ada orang-orang usil kepada anak ini.

Setiap hari ia selalu menjadi pelampiasan nafsu laki-laki bejat. Ia juga beberapa kali pernah (maaf) disodomi. Kini R berperilaku seperti perempuan. Di usianya yang baru 13 tahun, R se­ring dipanggil banci oleh orang-orang sekitarnya. Kepalang basah, akhirnya R pun menganggap dirinya sebagai perempuan. Setiap hari ia selalu memakai celana yang berukuran pas dengan kaki. Rambutnya panjang sebahu. Tak lupa ia juga acap memakai bedak dan lipstik.

Begitulah penampilan R saat turun ke jalan untuk mengemis dan mengamen. Diam-diam seorang induk semang pelacur memperhatikan tingkah laku R ini. Suatu hari ia diculik dan dibawa ke satu tempat. Di ruangan berukuran 3 x 3 meter sudah menunggu seorang laki-laki berbadan tegap. R kaget dan tak tahu harus berbuat apa. Laki-laki itu memaksa anak ini melayani dirinya. Baru selesai laki-laki pertama, masuk lelaki kedua. Setelah itu masuk lagi yang ketiga, keempat, hingga ketujuh. R diancam. Kalau tidak mau melayani ketujuh lelaki itu, ia akan disiksa. Akhirnya anak ini pasrah dan menerima saja. Kondisi mengenaskan ini bukan cerita fiksi atau karangan. Inilah realita yang terjadi pada sebagian pengamen dan pengemis anak di ibu kota.

Rencananya, untuk mengurangi anak-anak jalanan seperti cerita di atas, para LSM akan bahu-membahu dengan pemerintah agar jumlah mereka berkurang. Targetnya, menurut Endang, pada tahun 2014 sudah tidak ada lagi anak-anak jalanan di ibu kota. “Semua orang harus mendukung program ini. Minimal sadarkan kepada mereka bahwa jalanan bukanlah dunia untuk anak-anak. Mereka berhak mendapat kehidupan yang lebih baik. Me­reka berhak bermain dan bukan disiksa atau dipaksa mencari uang di jalanan,” tutupnya tegas.



SUMBER



Selengkapnya...

10 Fakta Bobroknya Perekonomian Amerika


http://www.mortgageforeclosurereport.com/wp-content/uploads/2009/08/uncle_sam_bruised_economy.jpeg
Jika Anda menganggap perekonomian Amerika masih sehat, ubahlah persepsi Anda. Opini inilah yang ingin disampaikan pengelola blog ekonomi, The Economy Collapse (TEC), kemarin.
Berdasarkan survei yang mereka lakukan, TEC mengatakan sebagian besar penduduk Amerika tidak memahami betapa buruknya perekonomian negara mereka saat ini. Demi mengubah pandangan itu, TEC pun melansir 10 fakta mengejutkan tentang ekonomi Amerika.

Beberapa dari fakta itu terbilang mengerikan. Mau tahu apa saja hal-hal buruk itu? Ini dia.

1. Total utang Amerika Serikat saat ini mencapai 15 triliun dolar, naik 4,4 triliun dari besaran utang ketika Presiden Obama pertama kali menjabat.

2. Seluruh kekayaan Bill Gates hanya mampu membiayai defisit anggaran Amerika selama 15 hari.

3. Saat ini, 48 persen penduduk Amerika dinyatakan hidup dalam kemiskinan.

4. Ada 33 persen lebih banyak anak gelandangan dibandingkan pada 2007.

5. Penduduk Amerika rata-rata menganggur atau menunggu panggilan kerja lebih dari 40 minggu

6. Saat ini, lebih dari 40 persen pekerjaan di Amerika masuk kategori pekerjaan berpenghasilan rendah. Padahal, pada era 1980-an, pekerjaan bergaji rendah hanya kurang dari 30 persen.

7. Satu dari 3 orang Amerika kemungkinan tidak dapat membayar sewa rumah di bulan berikutnya jika ia kehilangan pekerjaan, begitu disebutkan dalam suatu survei.

8. Perusahaan Pos Amerika mengalami kerugian 5 miliar dolar di tahun ini.

9. Satu dari tujuh penduduk Amerika memiliki lebih dari 10 kartu kredit.

10. Sebuah survei menunjukkan bahwa 77 persen bisnis skala kecil di Amerika tidak berencana menambah karyawan.



SUMBER



Selengkapnya...

Perusahaan Internasional Menghancurkan Hutan Indonesia

LSM lingkungan, Greenpeace mengeluarkan tudingan baru terhadap perusakan hutan hujan tropis oleh perusahaan sawit dan pabrik kertas dan pulp yang dikelola oleh Sinar Mas. Greenpeace menuduh sejumlah perusahaan internasional terlibat dalam menghancurkan hutan Indonesia. LSM lingkungan internasional tersebut menilai Walmart, Tesco, Carrefour dan perusahaan internasional lainnya telah membeli produk pulp dan kertas dari produsen Indonesia yang merusak hutan.
http://www.duniacyber.com/images/iklan/lain%20lain/musdalifah/2009-12-07/sawit-sawit.gif
Dalam laporan terbaru, Greenpeace menyebutkan Asia Pulp & Paper (APP), produsen pulp dan kertas terbesar keempat di dunia yang dikendalikan oleh Sinar Mas, konglomerat Indonesia sebagai pihak tertuduh. "Sinar Mas terus mengakuisisi dan menghancurkan hutan alam yang menjadi habitat harimau, serta membabat lahan gambut kaya karbon untuk pabrik pulp di Sumatera," ujarGreenpeace. Greenpeace menuding APP tidak pernah serius menggunakan kayu pulp dari perkebunan eksklusif ... meskipun memberikan jaminan kepada pelanggan. Namun, APP justru mempertahankan ketergantungan pada hutan alam.
Greenpeace tidak menyebutkan dimana lokasi Sinar Mas melanggar hukum, tapi LSM ini percaya perusahaan ini telah mendapatkan lisensi dari pemerintah beroperasi di areal lahan yang semestinya dilindungi. Masalah status lahan, menurutGreenpeace, menjadi biang konflik di Indonesia karena persoalan hukum yang rumit dan tumpang tindih, minimnya penegakan peraturan, serta korupsi di pemerintah.
Selain Tesco dan Carrefour, Greenpeace menyebutkan Kentucky Fried Chicken, Hewlett Packard, dan Auchan menggunakan produk dari APP. Laporan ini juga menyebutkan nama-nama lain, seperti grup retail WH Smith, Corporate Express asal Belanda yang dimiliki oleh Staples, serta PaperlinX, pedagang kertas Australia. Greenpeace menyerukan kepada semua perusahaan itu berhenti membeli produk APP dan mencegah merek mereka dikotori oleh tudingan terlibat dalam kerusakan hutan.
David Shirer, juru bicara Paperlinx, berkata: "Jika ada bukti dari bahan ilegal yang dipakai pemasok kami, kami akan berhenti berdagang dengan pemasok.". Jurubicara Tesco mengatakan pihaknya tidak membeli produk dari APP di Inggris, baik secara langsung atau tidak langsung. "Kami berkomitmen membeli kayu dan produk kayu yang legal, dari bahan baku berkelanjutan. "
Seorang juru bicara dari Carrefour juga mengaku berkomitmen menggunakan produk dari bahan baku untuk pembangunan berkelanjutan, serta memutuskan untuk menghentikan pasokan APP diIndonesia untuk produk bermerek Carrefour pada musim panas ini. "Carrefour telah bertemu dengan APP untuk membahas soal ini," katanya. Auchan menyebutkan APP bukanlah pemasok besar. Namun, mereka akan mempelajari kesimpulan laporanGreenpeace secara hati-hati untuk memutuskan tindakan apa yang harus diambil. Sedangkan, sumber dari dari Walmart, KFC, HP, dan Staples menolak berkomentar.
Mengutip dokumen internal APP dan data pemerintah Indonesia, Greenpeace menuduh bahwa APP telah menghancurkan habitat harimau dan orang utan Sumatera, serta merusak hutan yang kaya karbon untuk memenuhi target ambisiusIndonesia mengurangi emisi 26 persen dalam 10 tahun mendatang. Aida Greenbury, Direktur APP menolak memberikan rincian tentang para pembelinya. Namun, ia mengatakan klaim bahwa aktivitas perusahaan telah membuat spesies terancam punah "sama sekali tidak benar".
APP menyatakan dua kali dalam laporan dan kepada pemegang saham bahwa akan manggunakan 100 persen kayu dari sumber bahan baku berkelanjutan, ditargetkan pada 2007 dan diubah 2009. Namun, perusahaan tak bisa menggapai target tersebut.
Greenbury mengatakan bahwa sejak 2008, sekitar 85 persen dari kayu APP telah datang dari perkebunan. Perusahaan juga akan mengurangi ketergantungan pada sumber-sumber non-berkelanjutan hingga 10 persen mulai tahun ini.
Mereka juga mendesak perusahaan ritel besar seperti Carrefour dan Walmart agar tidak membeli produk yang dikeluarkan oleh Sinar Mas.
Beberapa pembeli sawit terbesar produk Sinar Mas seperti Unilever dan Nestle sebelumnya telah menghentikan pembelian sawit yang dihasilkan oleh Sinar Mas terkait dengan tudingan perusakan lingkungan.
Greenpeace menyebutkan proses perlindungan terhadap hutan hujan tropis dan lahan gambut adalah salah satu cara untuk mengurangi dampak perubahan lingkungan.
APP terus melakukan penghancuran terhadap hutan hujan tropis dan hutan gambut untuk memenuhi kebutuhan dua pabrik bubur kertas
Greenpeace
Dalam laporan Greenpeace berjudul 'How Sinar Mas is Pulping the Planet' yang diluncurkan pada hari ini (6/07), mereka menyebutkan perusahaan tersebut tidak berniat untuk sepenuhnya memenuhi kebutuhan dari kayu milik mereka sendiri sejak tahun 2009.
"Laporan ini merupakan hasil analisis dari kajian yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dan juga berdasar pada peta dan data milik Sinar Mas, selain penyelidikan lapangan yang juga menunjukan APP terus melakukan penghancuran terhadap hutan hujan tropis dan hutan gambut untuk memenuhi kebutuhan dua pabrik bubur kertas mereka yang ada di Sumatra," kata salah satu bagian dalam laporan yang dikeluarkan olehGreenpeace hari ini.
Laporan yang disampaikan Greenpeace juga menyebutkan bahwa dua pabrik pengolahan bubur kertas milik APP itu terus memperluas kapasitas produksinya dari 2,6 juta ton pada tahun 2006, mereka berusaha meningkatkan kapasitas produksinya hingga 17,5 juta ton pertahun.
Tidak berdasar
Dikutip dari Reuters, juru bicara APP, Aida Greenbury mengatakan mereka tidak mempunyai rencana untuk meningkatkan kapasitas produksinya seperti yang disebutkan olehGreenpeace.
"Untuk meningkatkan produksi hingga 17 juta ton setidaknya dibutuhkan 8 juta hektar lahan lagi dan ini sangat konyol," katanya.
Dalam laporannya Greenpeace juga menyebut Sinar Mas berusaha untuk memperluas lahan dengan pembabatan hutan yang menjadi habitat Harimau Sumatra, salah satu hewan yang dilndungi oleh pemerintah.
Namun dalam pernyataannya perusahaan pengelolaan minyak sawit PT Smart.tbk mengatakan mereka tidak membuka perkebunan sawit di kawasan hutan alam primer, hutan gambut dan juga tidak melakukan konversi lahan yang mempunyai nilai konservasi tinggi.
Presiden Direktur Smart, Daud Darsono dalam rilis yang dikeluarkan oleh perusahaan itu meminta para pengguna produk mereka untuk menunggu hasil kajian dalam pertemuan sidang penanaman sawit berkelanjutan (RSPO) - pertemuan yang menghadirkan perusahaan sawit, pengguna dan kelompok lingkungan - untuk membuktikan tuduhan yang diajukan olehGreenpeace.
Pertemuan tersebut rencananya akan digelar pada bulan ini.



SUMBER



Selengkapnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...